Jumat, 19 Oktober 2012

FAKTOR RISIKO ASUPAN FE, INHIBITOR KALSIUM DAN JARAK KELAHIRAN TERHADAP KEJADIAN OSTEOPOROSIS PADA IBU HAMIL DI KLINIK NURANI GODEAN


Alhamdulilah puji syukur hamba panjatkan kepada MU ya Rabb. Aku mencoba mengajukan abstrak ini pada WIDYAKARYA NASIONAL PANGAN DAN GIZI. Alhamdulilah lolos untuk presentasi Poster pada WNPG X bidang Gizi dan Kesehatan pada tanggal 19-21 November 2012 di Auditorium LIPI Jakarta. Semoga situasi dan kondisi nya mendukung untuk saya berangkat dan mengikuti kegiatan ini. Semoga Allah selalu meridhoi langkah saya dalam berkarya. Bismillah, Anak Bawang bermimpi mengapai puncak Monas. Man Jadda wajada :)


FAKTOR RISIKO ASUPAN FE, INHIBITOR KALSIUM DAN JARAK KELAHIRAN TERHADAP KEJADIAN OSTEOPOROSIS PADA IBU HAMIL DI KLINIK NURANI GODEAN
Sandy Ardiansyah1, Tri Siswati2, Elza Ismail3, Nur Dwi Handayani4
1.     Mahasiswa D-IV Gizi Poltekkes Kemenkes Malang (Alumni D-III Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta), (sandy_ahligizi@ymail.com, 081367766648)
2.     Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (tiur_gizi_yogya@yahoo.com, 081227614547)
3.     Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
4.     Ahli Gizi RSUP Dr Sardjito Yogyakarta



Latar Belakang : Daerah Istimewa Yogyakarta menempati urutan tertinggi jumlah penderita osteoporosis ke-3 yakni 23,5%. Osteoporosis bisa terjadi ketika seorang perempuan sedang hamil atau menyusui. Wanita yang sedang hamil harus mempunyai asupan Fe, kalsium yang lebih bagi perkembangan janin. Salah satu faktor yang menghalangi (inhibitor) penyerapan kalsium adalah adanya zat organik yang dapat bersenyawa dengan kalsium membentuk garam yang tidak larut, antara lain konsumsi asam oksalat, natrium dan serat. Jarak kelahiran yang pendek juga dapat mempengaruhi risiko osteoporosis, kerena ibu belum mempunyai waktu yang cukup untuk mengembalikan kesehatan setelah persalinan sebelumnya.
Tujuan : Mengetahui faktor risiko asupan Fe, inhibitor kalsium dan jarak kelahiran terhadap kejadian osteoporosis pada ibu hamil
Metode : Penelitian observasional dengan rancangan case-control. Penelitian dilakukan di Klinik Nurani Godean tahun 2011. Sebanyak 90 ibu hamil terdiri dari 30 osteoporosis dan 60 non osteoporosis diteliti sebagai sampel. Data yang diteliti meliputi asupan Fe, inhibitor kalsium, jarak kelahiran, dan kepadatan tulang. Data asupan zat gizi dikumpulkan dengan metode FFQ Semikuantitatif dan di analisis dengan nutrisurvey dan CD Menu. Sedangkan kepadatan tulang diukur dengan Quantitative Ultrasound Bone Densitometry. Analisis statistik yang digunakan untuk mencari faktor risiko atau Odds ratio dari masing-masing variabel.
Hasil : Sebagian besar ibu hamil osteoporosis terjadi pada trimester ke III (60%), mempunyai asupan Fe berisiko (93,3%), asupan asam oksalat berisiko  (53,3%), asupan natrium yang berisko (56,7%), asupan serat berisiko (56,7%) dan jarak kelahiran berisiko (3,3%). Sedangkan, sebagian besar ibu hamil non osteoporosis terjadi pada trimester II (35%) dan III (33,3%), mempunyai asupan Fe berisiko (91,7%), asupan asam oksalat berisiko (30%), asupan natrium berisiko (45%), asupan serat berisiko (48,3%) dan jarak kelahiran berisiko (1,7%).
Kesimpulan :
Hasil penelitian ini adalah Ibu hamil dengan asupan Fe yang kurang mempunyai risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 1,27 kali dibandingkan asupan Fe yang cukup ; Ibu hamil dengan asupan asam oksalat yang lebih mempunyai risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 2,66 kali dibandingkan asupan asam oksalat  yang cukup ; Ibu hamil dengan asupan natrium yang lebih mempunyai risiko  untuk menderita osteoporosis sebesar 1,59 kali dibandingkan asupan natrium yang cukup ; Ibu hamil dengan asupan serat yang lebih mempunyai risiko untuk menderita osteoporosis sebesar 1,39 kali dibandingkan asupan serat yang cukup ; Ibu hamil dengan jarak kelahiran yang dekat mempunyai risiko  untuk menderita osteoporosis sebesar 2,03 kali dibandingkan jarak kelahiran yang cukup.

Saran
Banyak faktor yang berhubungan dengan faktor risiko kejadian osteoporosis pada ibu hamil. Faktor tersebut saling terkait antara satu dengan yang lain, sehingga saran yang dapat peneliti berikan adalah :
1.     Meningkatkan asupan Fe dari yang berasal dari makanan disamping ada penambahan suplemen.
2.     Agar tidak terjadi interaksi penghambat pada inhibitor kalsium (asam oksalat, natrium dan serat) maka disarankan untuk mengimbangi dengan konsumsi sumber pangan yang beraneka ragam.
3.     Memperhatikan pengaturan waktu jarak kelahiran anak untuk mempersiapkan kesehatan ibu dalam hal mengembalikan asupan kalsium dan Fe setelah proses persalianan.

Kata Kunci : Asupan Fe, Inhibitor Kalsium, Jarak Kelahiran, dan Osteoporosis.


Rabu, 17 Oktober 2012

REFLEKSI DUA TAHUN LAHIRNYA NAFAS IKAMAGI, BENARKAH ANDA MAHASISWA DIPLOMA GIZI INDONESIA ?

REFLEKSI  DUA TAHUN LAHIRNYA NAFAS IKAMAGI, BENARKAH ANDA MAHASISWA DIPLOMA GIZI INDONESIA ?
oleh
(Sandy Ardiansyah, A.Md.Gz dan Jhonson Agustinus S, A.Md.Gz)


Sebuah perjalanan 2 tahun sudah terlewati, dan perjalanan ini bukan waktu yang sebentar. Sebuah mimpi yang dahulu hanya berupa konsep angan-angan dan khayalan belaka sekarang sudah tegak dan berdiri kokoh. Hal ini dikarenakan banyaknya tersiram dengan semangat dan kegigihan dalam bersolutif kerja. Kokoh nya batang tubuh ini ditandai dengan lahirnya para generasi penerus pejuang Diploma Gizi Indonesia.
Sebagai satu kesatuan mahasiswa Diploma Gizi Indonesia perlu refleksi kapabilitas terhadap peran nyata kepada masyarakat yang merupakan sumber potensi permasalahan kesehatan khsususnya gizi bangsa. Kondisi negara saat ini memerlukan campur tangan dari mahasiswa sebagai generasi muda dalam membantu merumuskan serta mencari solusi dari berbagai macam masalah kesehatan yang timbul akibat adanya krisis dan pergejolakan dari masyarakat. Peran ganda inilah yang akan mengajarkan dan menuntut tidak hanya berstatuskan mahasiswa saja tetapi juga sebagai elemen yang mampu mengemban tugas untuk mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia.

Gizi buruk merupakan suatu permasalahan multikompleks yang melanda negara Indonesia tercinta. Secara nasional jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia ternyata sangat besar. Menurut hasil Susenas 2003, sekitar 27.3% balita Indonesia kekurangan gizi.  Artinya, dari jumlah 18 juta balita pada tahun 2003, 4.9 juta mengalami masalah gizi buruk. Tahun 2005, sesuai proyeksi/prakiraan penduduk Indonesia oleh BPS, anak usia 1-4 tahun adalah sebanyak 20.87 juta. Jika angka 27.3% digunakan, diperkirakan sebanyak 5.7 juta anak balita mengalami masalah gizi buruk. Balita yang mengalami busung lapar atau kekurangan gizi sangat parah adalah sebanyak 8%, yaitu 1.67 juta balita.  Inilah potret kualitas hidup mayoritas  rakyat negeri yang dinilai kaya-raya ini.
Luar biasanya lagi ternyata kasus ini gizi buruk tidak hanya terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia, setiap hari 26.500 anak-anak meninggal.

Data ini menunjukkan: 
-       Seorang anak meninggal setiap 3 detik
-       Setiap 1 menit 18 anak-anak meninggal
-       Hampir 10 juta jiwa anak-anak meninggal dalam setahun
-       Setidaknya 60 juta anak-anak kehilangan nyawa antara tahun 2001-2006

Pembunuh mereka semua adalah kemiskinan, kelaparan, penyakit dan kesehatan yang buruk.

Jika kita berkaca dalam diri kita sendiri, Kemanakah kita sebagai Mahasiswa Diploma Gizi di Indonesia ? Kemanakah kepekaan kita akan permasalahan yang melanda dunia ini. Akankah kita berpikir, apa yang bisa kita kerjakan ? Apa yang bisa kita refleksikan untuk bangsa ini ? Jelas, kita sadari bahwa sebagai mahasiswa tidak akan mungkin memiliki biaya triliunan untuk menebus semua permasalahan gizi ini, Solusi apa yang bisa kita berikan bagi permasalahan gizi yang bertubi-tubi melanda, bukan hanya gizi buruk tetapi permasalahan kompleks akan bahayanya gizi lebih yang akan berakibat terhadap penyakit degeneratif.
Banyak seharusnya yang dapat kita solusikan bagi permasalahan ini, kepercayadirian/confident adalah modal utama bagi mahasiswa Diploma Gizi Indonesia dalam pengentasan masalah tersebut. Dimulai akan kemampuan penilaian pribadi sendiri (self assessment) baru kita bisa berdiri di suatu tempat dan berseru bahwa :

Saya Mahasiswa Diploma Gizi Indonesia dengan bangga mempunyai solusi nyata untuk membantu bangsa ini berjalan keluar dari zona ring of fire nutrition. 


POTRET IKAMAGI MASA DEPAN UNTUK INDONESIA 

Modal utama sebuah organisasi adalah Rasa kekeluargaan. Inilah yang menjadi dasar nama IKAMAGI bahwa kekeluargaan yang erat akan menimbulkan banyak keuntungan yang bisa membuat organisasi ini menjadi lebih kokoh dan mempunyai daya tahan / rasa solid akan serangan-serangan faktor eksternal maupun faktor internal yang sering terjadi dalam batang tubuh suatu organisasi oleh organisatoris.

Sebuah potret kehidupan dunia organisasi bukanlah tempat bagi mahasiswa utnuk mencari kesenangan, di organisasi justru akan banyak kita jumpai “duri”, salah tempat jikalau hanya mencari kesenangan belaka, banyak cerita tidak enak-nya, siang kuliah, malam bergagang berdiskusi sambil ngerjain tugas kuliah, tak ada waktu untuk hanya sekedar memencet cerawat yang memerah, uang jajan kadang juga harus direlakan atau mendapatkan ancaman sana-sini. Tapi Apa ini merupakan pilihan-pilihan buat orang ”bodoh” ? TIDAK, yakinlah bahwa disini ada nilai ketulusan, ada pelajaran keihklasan, dan rasa pengorbanan yang tak kita jumpai pada kantin-kantin kampus, plataran-plataran pakir, atau di aula kampus besar kita.
Menjadi seorang IKAMAGI bukan hanya ajang untuk pamer status jabatan dalam situs sosial, akan tetapi eksistensi nya akan kekonsistenan dalam membangun IKAMAGI ke depannya. Dasar keinginan dan keyakinan yang kuat ini yang akhirnya  akan membentuk kehidupan  organisasi IKAMAGI yang sehat dan produktif. Meskipun kita ketahui dengan segala keterbatasan dan kemampuan. Dengan harapan IKAMAGI bisa menjadi salah satu organisasi yang maju dan berkembang serta bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Karena “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, begitupun dengan IKAMAGI. Teruskan lah perjuangan para pendahulu yang telah berjuang dalam melahirkan dan mempertahankan IKAMAGI. Hargailah mereka sebagai para pahlawan lahirnya aspirasi organisasi mahasiswa Diploma gizi se-Indonesia. Potret kekeluargaan yang erat hendaknya kita bangun dalam batang tubuh IKAMAGI. Dilain sisi, wawasan organisasi berupa sikap konsisten, kerja cerdas, dan keikhlasan juga tetap harus terpatri.

Semoga IKAMAGI menjadi organisasi mahasiswa penghasil generasi agent of change yang kritis, kreatif, egaliter dan berkontribusi solutif terhadap pengentasan permasalahan Gizi di Indonesia “Sekarang” dan “Masa depan”. 
HIDUP MAHASISWA DIPLOMA GIZI INDONESIA !

SELAMAT HARI ULANG TAHUN KE II
     “17 OKTOBER 2010 - 17 OKTOBER 2012”

Ikatan Keluarga Mahasiswa Diploma Gizi Indonesia 
    Jayalah, Jaya, Jayalah Diploma Gizi Indonesia ! 


UCAPAN TERIMAKASIH
  1. DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI)
  2. FORKOM Jurusan Gizi se-Indonesia
  3. Konseptor (Founder) IKAMAGI
  4. Dewan Kehormatan & Anggota Dewan Kehormatan IKAMAGI
  5. HMJ/HIMA/BEMJ/HIMAGIZ/Organisasi Mahasiswa Diploma Gizi se-Indonesia
  6. Sekretaris Jendral 2010/2011 & Segenap Pengurus IKAMAGI 2010/2011, Gumilang Nurul Arsy, dkk.
  7. Sekretaris Jendral 2011/2012 & Segenap Pengurus IKAMAGI 2011/2012, Pungki Priyo Admojo, dkk.
  8. Sekretaris Jendral 2012/2013 & Segenap Pengurus IKAMAGI 2012/2013, Irsanti Ning Rachmani, dkk.
  9. Seluruh Mahasiswa Diploma Gizi Indonesia



Rabu, 28 Maret 2012

MODEL POSYANDU SWASEMBADA SEBAGAI UPAYA MENYELAMATKAN ANAK-ANAK KORBAN BENCANA GUNUNG MERAPI

MODEL POSYANDU SWASEMBADA SEBAGAI UPAYA MENYELAMATKAN ANAK-ANAK KORBAN BENCANA GUNUNG MERAPI
DARI LOSS GENERATION

Sandy Ardiansyah1, Waryana2
(1) Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Yogyakarta, sandy_ahligizi @yahoo.co.id +6281367766648
(2) Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Yogyakarta+6287838490956


A. Latar Belakang
Bencana alam letusan Gunung Merapi mengakibatkan banyak kerugian. Kerugian  yang terjadi diantaranya kehilangan harta benda, rusaknya lingkungan, ekonomi masyarakat menurun. Ketersediaan pangan yang kurang akan mengakibatkan meningkatnya kasus  kurang energi protein (KEP) dan gizi buruk pada anak-nak. Hasil pemantauan status gizi yang dilakukan DPD persagi DIY terhadap anak-anak yang mengungsi akibat bencana erupsi Merapi, Kabupaten Sleman, didapatkan  kasus KEP pada  anak-anak pengungsi meningkat. Balita yang menderita KEP sebesar 14,5% dan balita yang dinyatakan gizi buruk sebesar 1,3%. Masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak akan mengancam kualitas generasi Indonesia di masa yang akan dating.  Anak-anak yang menderita gizi buruk akibat bencana Gunung Merapi bila tidak ditangani dengan tepat dapat  mengakibatkan bangsa Indonesia akan mengalami “lost generation“  kehilangan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Bangsa dan Negara akan kehilangan sumberdaya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang karena anak merupakan generasi penerus bangsa.
Peran Posyandu sebagai salah satu sistem penyelenggaraan pelayanan kebutuhan kesehatan dasar dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia, sudah diakui keberadaannya Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memperoleh wawasan tentang bagaimana upaya menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation melalui Posyandu Swasembada. Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan salah satu upaya untuk menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation dengan melakukan inovasi perbaikan jenis kegiatan posyandu  sebagai wadah untuk menampung upaya mengatasi masal;ah KEP dan gizi buruk secara mandiri dengan menggunakan sumberdaya lokal.

B. Metodologi Penulisan
Ruang lingkup karya ilmiah ini adalah membahas masalah kesehatan masyarakat, khususnya masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak korban erupsi dengan posyandu model swasembada sehingga dapat menyelamatkan anak-anak korban Gunung Merapi dari loss generation. Penyusunan karya ilmiah ini dilakukan dengan metode telaah pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam  terhadap Ibu balita, Kader Posyandu, PKK, dan tokoh masyarakat. Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu mengkaji antara data yang diperoleh dari laporan hasil penelitian, laporan hasil pelayanan kesehatan dan observasi langsung di lapangan dengan teori yang terkait.
C. Pemecahan Masalah
Berdasarkan data pemantauan status gizi pada pengungsi erupsi Gunung Merapai yang dilakukan oleh DPD Persagi Propinsi DIY, ditemukan anak KEP  sebesar 14,5%. Anak yang menderita KEP dan gizi buruk akan mempengaruhi sumberdaya manusia, karena  gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Masalah gizi buruk bila tidak ditangani dengan tepat dapat  mengakibatkan bangsa Indonesia akan mengalami “lost generation“ kehilangan sumberdaya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang karena anak merupakan generasi penerus bangsa.
Untuk mengatasi masalah KEP dan gizi buruk, sejak tahun 1960-an pemerintah mulai mengembangkan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Pada tahun 1985 kegiatan utama UPGK diintegrasikan dalam kegiatan Posyandu. Fungsi posyandu sebagai lembaga masyarakat wadah yang menampung upaya upaya kesehatan masyarakat dan perbaikan gizi  belum mencapai hasil yang optimal. Hasil pengamatan langsung pada kegiatan posyandu dan  wawancara mendalam dengan responden ibu balita, tokoh masyarakat, kader posyandu, dan pengurus PKK di Shelter pengungsi dapat disimpulkan bahwa kegiatan posyandu yang selama ini berjalan dianggap sebagai tempat penimbangan sajasehingga  perlu  adanya revitalisasi posyandu.
Model ”Posyandu Swasembada” merupakan bentuk modifikasi posyandu yang selam ini sudah dilaksanakan di masyarakat dengan menambah kegiatan intervensi. Posyandu swasembada dapat dijadikan sebagai solusi model Posyandu dalam upaya untuk meyelematkan anak-anak korban bencana Merapi dari loss generation. Posyandu Swasembada bertujuan untuk meningkatkan fungsi Posyandu sebagai lembaga masyarakat untuk mencegah kasus KEP dan gizi buruk, memantau pertumbuhan anak dan mengatasi masalah KEP dan gizi buruk. Ciri khas posyandu model swasembada adalah adanya meja intervensi. Tindakan yang dilakukan pada meja intervensi adalah: konsultasi gizi, PMT, pemberian obat tradisional (jamu), pemijitan, dan rujukan.
Sering terjadi anak anak tidak mau makan sehingga asupan gizi anak kurang. Untuk meningkatkan nafsu makan anak salah satu cara dapat ditempuh dengan pemijitan pada anak. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak dengan nafsu makan rendah setelah dipijit nafsu makan anak meningkat. Pemijitan pada anak dapat  memperlancar peredaran darah pada anak sehingga menambah nafsu makan dan meningkatkan kesehatan anak. Dengan terwujudnya Posyandu Swasembada di wilayah pasca bencana letusan Gunung Merapi ini akan menghasilkan kemandirian masyarakat dalam upaya mengatasi masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak melalui wadah Posyandu swasembada. Manfaat jangka panjang dapat menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation.
d.  Penutup
  1. Kesimpulan
Model posyandu swasembada sebagai wadah untuk menanggulangi masalah  KEP dan gizi buruk pada balita secara mandiri dan tuntas. Posyandu swasembada diharapkan dapat menumbuhkan  pemberdayaan masyarakat baik di wilayah pasca bencana maupun wilayah lain yang tidak terkena bencana alam. Posyandu swasembada berbasis masyarakat dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.
  1. Rekomendasi
Kepada pemerintah, untuk mengatasi masalah KEP dan gizi buruk pada balita dapat ditempuh dengan cara melakukan revitalisasi posyandu yang selama ini sudah berjalan dengan ”model posyandu swasembada” menambah kegiatan intervensi dalam bentuk kegiatan konsultasi gizi, pemberian makanan tambahan, pemberian obat tradisional (jamu), dan rujukan. Kegiatan intervensi ini dilakukan setelah kegiatan pencatatan hasil penimbangan. Posyandu swasembada dapat didajikan sebagai solusi model Posyandu dalam upaya untuk meyelamatkan anak-anak korban bencana Merapi dari loss generation.

     Piagam Penghargaan PIMGI 2011 - Universitas Hasanuddin Makassar

Mahasiswa Berprestasi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta 2011

            Pemilihan Mapres Politeknik 2011 dibuka akhirnya aku beranikan diri untuk mendaftarkan diri melalui jurusan, setelah rapat sana sini para dosen pun menentukan bahwa aku lah yang akan mewakilkan jurusan untuk maju ke tingkat direktorat. Alhamdulilah diberikan amanah yang berat tetapi insya allah sejalan dengan niat yang ikhlas selalu.
            Mulai sibuk mencari data-data organisasi, prestasi dan sertifikat-sertifikat yang sudah ku peroleh selama berkuliah di Poltekkes Kemenkes Jogja.Faktanya padahal aku sudah tingkat III yang pada saat nya untuk menjalani rutinitas praktik kerja lapangan desa dan penelitian untuk KTI.
            Sudah diterpilih semua wakil dari ke-6 jurusan, maka dipertemukan dalam sesi penentuan judul karya ilmiah.Aku sudah mempersiapkan judul yang data nya sudah ada alias data PKL PPG ku di desa wirokerten, tetapi ditolak karena berbeda tema dan “tidak menjual”.Harus memikir otak lagi, padahaln otakku entah kemana waktu itu.Pembimbing awal ku pun diganti dan akhirnya bapak Waryana, SKM, M.Kes menggojlkku menjadi pembimbing.
            Kesan pertamaku dengan pak waryana adalah seorang yang suka bercanda dan aku berpikir bahwa aku akan kesulitan bila harus berdiskusi dengan beliau. Tapi pemikiran awal ku salah besar, Bagiku Pak Waryana adalah orang yang membuka pikiran ku terbuka dengan penulisan karya ilmiah terutama tetang gizi dan kesehatan masyrakat.Beliau mengajarkan ku tentang perjuangan dan keikhlasan. Selama bimbingan hampir sebulan setiap malam aku mendatangi kediamannya di Bantul sekitar 1 jam dari kost an ku di gamping.
            Coret sana-coret sini, banyak koreksi dan akhirnya jadi juga karya ilmiah ku. Insya allah aku yakin pak dengan karya ilmiah kita. Banyak sekali pelajaran yang aku dapat terutama Ilmu “Ngeles” ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan juri. Terimakasih Pak Waryana.
Seiring berjalannya kompetensi Mapres, akhir-akhir penjurian kami ber 6 semaki erat kekeluargaannya.Sering sama-sama berdiskusi tentang karya-karya ilmiahnya yang lagi di garap.
Inilah Ke 6 Mapres Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Dari Kiri - Kanan : Yuda (Gigi), Sandy (Gizi), Yoga (Perawat), Nyoman (Analis), Anita (Kesling) dan Amalia (Bidan)
Akhirnya penjurian sudah selesai dengan melihat aspek IPK, organisasi kegiatan kampus, penghargaan, karya ilmiah dan bahasa inggris.Terpilihlah wakil dari Analis sebagai pemenang Mapres tingkat Direktorat.Aku harus puas pada peringkat ke-4.
Terimakasih atas persahabatan dan kekeluargaan teman-teman Mapres 2011, setelah lomba Mapres ini, kami semakin dekat dan sering hang out bersama. Tapi aku harus berpisah karena sudah wisuda. Aku mengucapkan terimakasih kepada Pembimbing/Promotor Dr. Waryana, SKM, M.Kes atas bimbingan dan dukungannya selalu.

Pesan saya sebagai Alumni Mapres Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
1. Tidak harus jadi yang terbaik untuk menjadi Baik
2. Berjuang itu adalah bentuk suatu niat, ikhlaskan karena Allah Swt.
3. Banyak belajar dari orang-orang hebat, contohlah yang baik dan perbaiki yang kurang baik
4. Kesempatan tidak datang dua kali, jadi Do the best !
5. Selamat dan Sukses untuk Mapres tahun-tahun berikutnya.

Galeri Kekeluargaan Mapres Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Angkatan I

PD adalah modal utama menggapai mimpi

Kami mempunyai mimpi dalam setiap perjalanan hidup ini

Meskipun kompetesi, tetapi kami tetap saling berbagi ilmu

MAPRES POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA 2011

Jogjakarta, Mei - Juli 2011

Jumat, 09 Maret 2012

Akupun pertama kali terbang ke Bali !


            Kecewa sekali ketika waktu jaman SMA, study tour yang sudah direncanakan mengunjungi pulau dewata harus dibatalkan karena bencana alam di kotaku, Jogjakarta ketika pertengahan tahun 2006.
Silih berganti banyak aku mendengar tentang keindahan kota ini, keglamoran dan kebebasan yang ada disana sulit aku membayangkannya. Apakah Bali ini Indonesia ? Pertanyaan yang sering aku lihat ketika melihat liputan tentang bali terutama di daerah legian yang merupakan tempat kejadian Bom Bali.
Ketika aku lihat sms dan kuteruskan dengan segera menelpon abah ku yang sedang berada di pulau sumatera. Mengabarkan bahwa akan berkunjung ke Bali karena akan mengikuti paltihan yang diadakan oleh perusahaan tempat bekerjanya. Spesialnya abah pergi bersama ibuku yang baru pertama kali berpergian dengan burung besi alias pesawat terbang.
Langsung hatiku tersontak, “Aku bakal nyusul, bah”. Abah ku pun mengiyakannya. Setelah telpon ku tutup terbesit bahwa aku harus menyelesaikan revisi Karya Tulis Ilmiah ku untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Gizi yang menjadi pilihan hidupku. Singkat cerita, Alhamdulilah abah dan ibu ku sudah sampai selamat di bali. Aku masih sibuk dengan revisian KTI ku. Tetapi otakku tidaklah konsen dengan KTI dideapan mata karena jiwaku ingin bersama orang tua ku di sana. Akhirnya mencari-cari tiket pesawat, aku dapatkan untuk penerbangan weekend pada hari jumat malam.
Hari jumat tiba dan aku sudah mengumpulkan revisian KTI kepada dosen pembimbing ku Ibu Tri Siswati dan Ibu Elza Ismail di Kampus yang amat aku banggakan. Jumat sore dengan meminta bantuan sahabat baik ku Irma untuk mengantarkan ku menuju bandara Adistujipto Jogja berhati nyaman.
Aku terbang juga setelah delay sekitar setengah jam, kebetulan aku duduk di kursi 2 baris paling belakang. Mungkin karena aku dapatkan tiket promo gembira di maskapai nomor 1 di Indonesia ini. Jiwa anak kost ku memang sangat kental di Jogja, yang artinya bahwa anak kost harus pinter ngirit yaaa.
Tak lama penerbangan dan pramugari sudah membereskan snack dan minuman ringan kami selaku penumpang akhirnya mesin pesawat yang membuat kuping ku selalu sakit dan turbulence nya yang kurasa menandakan bahwa pesawat segera menurun menuju Ngurah Rai airport. Hening, alhamdulilah tiba juga di Ngurah Rai sekitar pukul 23.30 WITA. Aku di Bali lho teriakku setelah meninggalkan pesawatku ! Bali-Bali-Bali-Bali !
Aku bertanya dengan seorang di bandara, “maaf, numpang nanya, Kira-kira ongkos taxi ke hotel sanur paradise bali berapa yaa ?” , seseorang itu menjawab, “sekitar, 150-an mas” mahal juga ya, akhirnya sebagai mahasiswa yang super ngirit aku mengunggangi ojek motor sekaligus merasakan udara angin malam Bali (baca : ngeles banget yaa, pelit apa medit*)
Yeyeyeye, satpam hotel bintang 5 ini kaget ada tamu dianter pake ojek malam-malam ke hotelnya. Haha, biasanya paling standar mobi kodok kali ya. Aku langsung menuju lobi dan abah ibu sudah menunggu disana. Aku berpelukan ceria di malam hari itu. Aku bingung, Malam nya bali jam berapa yaa? Kayaknya sore terus kata orang. Aku segera menuju kamar, kamar abah ibu sudah dipenuhi banyak oleh-oleh karena hari minggu harus sudah terbang lagi ke Palembang dan aku harus pulang ke Jogja untuk mengejar gelarku yang kutinggal sejenak.
Sudah lama aku tidak bertemu dengan abah ibu ku setelah kejadian Meletus merapi aku pun disuruh pulang tetapi aku menolak karena jiwa ragaku dibutuhkan di Jogja. Alhamdulialh aku bisa melewatkan liburan weekend 2 hari di kota orang dengan abah ibu tercintaku. Ayeyeye, Terimakasih ya Allah SWT.
Keesokan harinya karena memang pelatiahn sudah ditutup jadi bebas setiap delegasi untuk jalan-jalan. Kamipun bergabung dengan salah satu kolega abah dari prabumulih. Ada adek kecil, namanya Dandi. Dia deket denganku, kangen banget dan pengen banget punya adek cowok. Ya Allah aku rindu adek kembarku Hasan – Husin dan Ridho Nugraha yang sudah berada di sisiMu. eHM, air mataku menetes menulis ini. Aku ingin banggain orang tua ku !
Aku pun berjalan-jalan ke GWK, disini aku banyak berfoto ria dengan abah dan ibu. Padahal abah dan ibu sudah mengunjungi ini pada saat tour dari pelatihan kemarin. Ya sudahlah hitung-hitung menyenangkan aku, hehehe. Patungnya gede banget lho, tapi sayang belum ada tangannya yang wisnu, tapi aku enjoy banget. Kalo di Bali itu wangi ya, semuanya ada bunga. Gak di jalan, di tanah pasti ada aja bunga berjatuhan. 

Aku dan abah-ibu tercinta   



abah - ibu dg latar belakang garuda

ondel-ondel bali bersama abah-ibu

ondel-ondel nya yang mana ya ?
Selepas dari pasar kami harus segera check out dari hotel sanur karena akan pindah ke hotel Inna Garuda Bali yang berada di depan pantai kuta. Yey, Kuta Rock City !
 Kami pindah dan segera check in di sana, istirahat sebentar sambil menyusun barang-barang untuk dipacking. Berjalan-jalan di pantai kuta malam-malam, udara nya seger banget yaa. Kalo di Bali ada kuta, di Palembang ada Kuto lhoo *


di depan pantai kuta bali

Inna kuta beach hotel
aku dan ibu di depan kura-kura raksasa

Faktanya juga karena asli sumatera, dan di hotel juga makannya lidah-lidah western kali yaa. Kami mencari makanan Padang, dapet dan Get it, Its time to lunch ! Mantap, baru terasa sambelnya suit abah dan ibuku. Kami mencintai masakan indonesiaaaa, mantap jaya. Setelah itu kami mamir di pasar sukowati Bali, ini urusan emak-emak yaa belanja. Aku cuma membeli lukisan yang aku beli dari pelukis bali seharga 100 ribu rupiah.
         Sekitar jalanan pantai kuta tidak akan menemukan lesehan atau restoran padang, aku, abah dan ibu menyerah menyusurinya dan akhinya menaiki taksi untuk mencari sesuap nasi menuju warung jawa. Alhamdulilah menemukan juga pecel lele yang super mantap gedenya. Sampai di kamar hotel dilanjutkan packing lagi karena besok pagi akan balik ke Palembang pukul 6 dan aku terbang ke jogja pukul 7 pagi.
Tiba di bandara ngurah rai masih dalam keadaan ngantuk ya, sedih skeali harus berpisah dengan orang tua ke Palembang. Aku peluk erat di atas bandara ngurah rai abah dan ibu. Kami pun dipisahkan dengan pesawat yang memang berbeda tujuan landingnya. Alhamdulilah aku bisa merasakan liburan pertama ku ke bali dan spesialnya dengan abah dan ibu ku pula. Sesampai di jogja aku pun segera melanjutkan rutinitas menyelesaikan tugas akhir ku dan abah ibu juga sudah tiba di Palembang dan akan segera menceritakan pengalaman kepada keluarga besar terutama adikku dan keponakkanku yang ingin sekali ke Bali.
Bali itu bagian Indonesia dengan budaya nya yang amat kental, dan penuh dengan orang asing !


Jogja, Palembang, Bali, November 2011

Pengikut