Rabu, 28 Maret 2012

MODEL POSYANDU SWASEMBADA SEBAGAI UPAYA MENYELAMATKAN ANAK-ANAK KORBAN BENCANA GUNUNG MERAPI

MODEL POSYANDU SWASEMBADA SEBAGAI UPAYA MENYELAMATKAN ANAK-ANAK KORBAN BENCANA GUNUNG MERAPI
DARI LOSS GENERATION

Sandy Ardiansyah1, Waryana2
(1) Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Yogyakarta, sandy_ahligizi @yahoo.co.id +6281367766648
(2) Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Yogyakarta+6287838490956


A. Latar Belakang
Bencana alam letusan Gunung Merapi mengakibatkan banyak kerugian. Kerugian  yang terjadi diantaranya kehilangan harta benda, rusaknya lingkungan, ekonomi masyarakat menurun. Ketersediaan pangan yang kurang akan mengakibatkan meningkatnya kasus  kurang energi protein (KEP) dan gizi buruk pada anak-nak. Hasil pemantauan status gizi yang dilakukan DPD persagi DIY terhadap anak-anak yang mengungsi akibat bencana erupsi Merapi, Kabupaten Sleman, didapatkan  kasus KEP pada  anak-anak pengungsi meningkat. Balita yang menderita KEP sebesar 14,5% dan balita yang dinyatakan gizi buruk sebesar 1,3%. Masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak akan mengancam kualitas generasi Indonesia di masa yang akan dating.  Anak-anak yang menderita gizi buruk akibat bencana Gunung Merapi bila tidak ditangani dengan tepat dapat  mengakibatkan bangsa Indonesia akan mengalami “lost generation“  kehilangan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Bangsa dan Negara akan kehilangan sumberdaya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang karena anak merupakan generasi penerus bangsa.
Peran Posyandu sebagai salah satu sistem penyelenggaraan pelayanan kebutuhan kesehatan dasar dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia, sudah diakui keberadaannya Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memperoleh wawasan tentang bagaimana upaya menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation melalui Posyandu Swasembada. Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan salah satu upaya untuk menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation dengan melakukan inovasi perbaikan jenis kegiatan posyandu  sebagai wadah untuk menampung upaya mengatasi masal;ah KEP dan gizi buruk secara mandiri dengan menggunakan sumberdaya lokal.

B. Metodologi Penulisan
Ruang lingkup karya ilmiah ini adalah membahas masalah kesehatan masyarakat, khususnya masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak korban erupsi dengan posyandu model swasembada sehingga dapat menyelamatkan anak-anak korban Gunung Merapi dari loss generation. Penyusunan karya ilmiah ini dilakukan dengan metode telaah pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam  terhadap Ibu balita, Kader Posyandu, PKK, dan tokoh masyarakat. Analisis data dilakukan secara deskriptif, yaitu mengkaji antara data yang diperoleh dari laporan hasil penelitian, laporan hasil pelayanan kesehatan dan observasi langsung di lapangan dengan teori yang terkait.
C. Pemecahan Masalah
Berdasarkan data pemantauan status gizi pada pengungsi erupsi Gunung Merapai yang dilakukan oleh DPD Persagi Propinsi DIY, ditemukan anak KEP  sebesar 14,5%. Anak yang menderita KEP dan gizi buruk akan mempengaruhi sumberdaya manusia, karena  gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Masalah gizi buruk bila tidak ditangani dengan tepat dapat  mengakibatkan bangsa Indonesia akan mengalami “lost generation“ kehilangan sumberdaya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang karena anak merupakan generasi penerus bangsa.
Untuk mengatasi masalah KEP dan gizi buruk, sejak tahun 1960-an pemerintah mulai mengembangkan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Pada tahun 1985 kegiatan utama UPGK diintegrasikan dalam kegiatan Posyandu. Fungsi posyandu sebagai lembaga masyarakat wadah yang menampung upaya upaya kesehatan masyarakat dan perbaikan gizi  belum mencapai hasil yang optimal. Hasil pengamatan langsung pada kegiatan posyandu dan  wawancara mendalam dengan responden ibu balita, tokoh masyarakat, kader posyandu, dan pengurus PKK di Shelter pengungsi dapat disimpulkan bahwa kegiatan posyandu yang selama ini berjalan dianggap sebagai tempat penimbangan sajasehingga  perlu  adanya revitalisasi posyandu.
Model ”Posyandu Swasembada” merupakan bentuk modifikasi posyandu yang selam ini sudah dilaksanakan di masyarakat dengan menambah kegiatan intervensi. Posyandu swasembada dapat dijadikan sebagai solusi model Posyandu dalam upaya untuk meyelematkan anak-anak korban bencana Merapi dari loss generation. Posyandu Swasembada bertujuan untuk meningkatkan fungsi Posyandu sebagai lembaga masyarakat untuk mencegah kasus KEP dan gizi buruk, memantau pertumbuhan anak dan mengatasi masalah KEP dan gizi buruk. Ciri khas posyandu model swasembada adalah adanya meja intervensi. Tindakan yang dilakukan pada meja intervensi adalah: konsultasi gizi, PMT, pemberian obat tradisional (jamu), pemijitan, dan rujukan.
Sering terjadi anak anak tidak mau makan sehingga asupan gizi anak kurang. Untuk meningkatkan nafsu makan anak salah satu cara dapat ditempuh dengan pemijitan pada anak. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak dengan nafsu makan rendah setelah dipijit nafsu makan anak meningkat. Pemijitan pada anak dapat  memperlancar peredaran darah pada anak sehingga menambah nafsu makan dan meningkatkan kesehatan anak. Dengan terwujudnya Posyandu Swasembada di wilayah pasca bencana letusan Gunung Merapi ini akan menghasilkan kemandirian masyarakat dalam upaya mengatasi masalah KEP dan gizi buruk pada anak-anak melalui wadah Posyandu swasembada. Manfaat jangka panjang dapat menyelamatkan anak-anak korban bencana Gunung Merapi dari loss generation.
d.  Penutup
  1. Kesimpulan
Model posyandu swasembada sebagai wadah untuk menanggulangi masalah  KEP dan gizi buruk pada balita secara mandiri dan tuntas. Posyandu swasembada diharapkan dapat menumbuhkan  pemberdayaan masyarakat baik di wilayah pasca bencana maupun wilayah lain yang tidak terkena bencana alam. Posyandu swasembada berbasis masyarakat dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.
  1. Rekomendasi
Kepada pemerintah, untuk mengatasi masalah KEP dan gizi buruk pada balita dapat ditempuh dengan cara melakukan revitalisasi posyandu yang selama ini sudah berjalan dengan ”model posyandu swasembada” menambah kegiatan intervensi dalam bentuk kegiatan konsultasi gizi, pemberian makanan tambahan, pemberian obat tradisional (jamu), dan rujukan. Kegiatan intervensi ini dilakukan setelah kegiatan pencatatan hasil penimbangan. Posyandu swasembada dapat didajikan sebagai solusi model Posyandu dalam upaya untuk meyelamatkan anak-anak korban bencana Merapi dari loss generation.

     Piagam Penghargaan PIMGI 2011 - Universitas Hasanuddin Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut